BUDIDAYA TANAMAN TEBU SISTEM JURING GANDA

  1.  SISTEM JURING GANDA

Prinsip dasar dari system juring ganda pada tanaman tebu sama dengan system tanam jajar legowo pada tanaman padi, dimana dititik beratkan pada jarak tanam yang diatur sedemikan rupa sehingga populasi tanaman meningkat, dan memberikan tata ruang dan lingkungan tumbuh yang memungkinkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

 

Dengan meningkatnya populasi tanaman dan lingkungan tumbuh yang lebih baik diharapkan dapat meningkatnya produktivitas tebu yang lebih tinggi.Hasil penelitian di Kebun Percobaan Muktiharjo Pati, Jawa Tengah membuktikan, sistem juring ganda mampu meningkatkan produktivitas tebu antara 30-60 persen.Jika produktivitas tebu sebelumnya hanya mampu menghasilkan 70-90 ton/ha, kini setelah menerapkan teknologi juring ganda produksinya bisa mencapai 135-150 ton/ha.

 

Secara teknis sistem juring ganda tidak berbeda dengan juring tunggal, yang membedakan adalah adanya perbedaan jarak tanam dan modifikasi letak alur/barisan tanaman. Pada sistem juring ganda alur/barisan tebu atau jarak pusat ke pusat (PKP) dalam barisan lebih rapat (50 cm), jarak PKP antar barisan lebih lebar (185 cm) atau secara sederhana jarak tanamnya 135 cm x 50 cm x 50 cm. Sedangkan pada sistem juring tunggal jarak PKP (100-135 cm).

 

Banyak keuntungan didapatkan dengan menerapkan teknologi juring ganda. Adanya ruang yang cukup lebar memberikan tanaman memanen radiasi matahari lebih efisien dan maksimal, karena jarak tanam yang lebar 50 x 135 cm dengan jarak dari pucuk tebu ke pucuk tebu 185 cm. Sinar matahari adalah sumber energi utama bagi tanaman dalam melangsungkan proses fotosintesis, sehingga peluang memproduksi asimilat lebih tinggi. Hal tersebut berdampak terhadap peningkatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

 

Dengan sistem juring ganda, sirkulasi udara cukup baik akan membantu dalam penyediaan oksigen yang dibutuhkan oleh tanaman maupun mikrobia tanah. Ruang yang cukup terbuka menyebabkan sinar matahari yang masuk dalam area pertanaman cukup banyak demikian pula sirkulasi udara yang cukup baik menyebabkan kelembaban terjaga pada kondisi ideal bagi tanaman, serta dapat menekan atau mengurangi insiden serangan penyakit yang disebabkan oleh fungi atau jamur.

 

Sistem juring ganda memposisikan semua tanaman menjadi tanaman pinggir, sehingga peluang mendapat asupan hara cukup merata.Selain itu dalam pemeliharaan tanaman lebih mudah, penyulaman jauh lebih sedikit karena dalam sistem juring ganda ini bibit ditanam dengan sistem over lap (50%) atau untuk lawang. Penyiangan dan pengendalian gulma lebih mudah dilakukan, selain itu jika ada hama penyakit dapat dengan mudah ditanggulangi.

 

Keuntungan lain yang diperoleh dengan tanam juring ganda adalah adanya peluang memanfaatkan sela di antara PKP untuk tanaman lain dengan pendekatan sistem pertanaman ganda. Namun demikian dalam memilih tanaman sela harus mempertimbangkan berbagai hal, antara lain tanaman umur muda, struktur kanopi lebih rendah dibanding tanaman tebu, diusahakan bukan tanaman yang rakus hara tetapi tanaman yang dapat mensuplai hara (tanaman legum), dan bukan tanaman inang bagi hama dan penyakit tanaman tebu (misal : jagung merupakan inang penyakit pokkahbung).

 

Penerapan system juring ganda pada budidaya tebu tetap seperti budidaya tanaman tebu pada umumnya mulai dari

 

  1. persiapan lahan
  2. penyiapan bahan tanaman
  3. pemeliharaan
  4. pengendalian organism pengganggu tanaman
  5. sampai panen

 

Pada system juring ganda ini, dilihat dari populasi tanaman dan perlakuan ganda, mengakibatkan kenaikan biaya pada budidaya tebu ini, baik untuk jumlah bibit, pupuk maupun tenaga kerja, meskipun demikian hasilnya bisa optimal dengan besarnya biaya yang dikeluarkan.

 

  1. BUDIDAYA TEBU
  1. Penyiapan Lahan

Penyiapan lahan untuk penanaman tebu harus dilakukan dengan baik meliputi pekerjaan pembajakan pertama, pembajakan kedua, penggaruan, dan pembuatan kairan. Pembajakan pertama bertujuan untuk membalik tanah serta memotong sisa-sisa kayu dan vegetasi lain yang masih tertinggal. Pembajakan kedua dilaksanakan tiga minggu setelah pembajakan pertama. Arah bajakan memotong tegak lurus hasil pembajakan pertama dengan kedalaman olah 25 cm. Penggaruan  bertujuan untuk menghancurkan bongkahan-bongkahan tanah dan meratakan permukaan tanah. Penggaruan dilakukan menyilang dengan arah bajakan. Pembuatan kairan adalah pembuatan lubang untuk bibit yang akan ditanam. Kairan dibuat memanjang dengan jarak dari pusat ke pusat (PKP) 1,35-1,5 m, kedalaman 30-40 cm, dan arah operasi membuat kemiringan maksimal 2%.

  1. Penyiapan Bahan Tanaman

Bahan tanaman yang digunakan adalah benih unggul berupa bagal/bud set/bud chip atau G2 kultur jaringan yang sudah siap ditanam di kebun tebu giling (KTG), bagal yang digunakan adalah bagal 2 mata/pemilihan varietas disesuaikan dengan lokasi, tipe iklim, dan jenis tanah serta mendapat rekomendasi dari Pabrik Gula (PG) setempat. Sebelum ditanam bibit perlu diberi perlakuan sebagai berikut :

  1. Seleksi bibit untuk memisahkan bibit dari jenis-jenis yang tidak dikehendaki.
  2. Sortasi bibit untuk memilih bibit yang sehat dan benar-benar akan tumbuh serta memisahkan bibit bagal yang berasal dari bagian atas, tengah, dan bawah.
  3. Pemotongan bibit harus menggunakan pisau yang tajam dan setiap 3-4 kali pemotongan pisau dicelupkan ke dalam lisol dengan kepekatan 20%.
  4. Memberi perlakuan air panas (hot water treatment) pada bibit dengan merendam bibit dalam air panas (500C) selama 7 jam kemudian merendam dalam air dingin selama 15 menit. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga bibit bebas dari hama dan penyakit.

Bibit yang telah siap tanam ditanam merata pada kairan.Penanaman bibit dilakukan dengan menyusun bibit secara over lapping atau double row atau end to end (nguntu walang) dengan posisi mata di samping.Kebutuhan bibit tebu per ha antara 60-80 kwintal atau sekitar 10 mata tumbuh per meter kairan. Hal ini dimaksudkan agar bila salah satu tunas mati maka tunas di sebelahnya dapat menggantikan. Bibit yang telah ditanam kemudian ditutup dengan tanah setebal bibit itu sendiri. Akan tetapi bila pada saat tanam curah hujan terlalu tinggi, maka bibit ditanam sebaiknya ditanam dengan cara baya ngambang atau bibit sedikit terlihat. Sedangkan standar kualitas bibit dari varietas unggul yang harus dipenuhi adalah :

  • Daya kecambah > 90%, segar, tidak berkerut dan tidak kering
  • Panjang ruas 15-20 cm dan tidak ada gejala hambatan pertumbuhan
  • Diameter batang ± 2 cm dan tidak mengkerut/mengering
  • Mata tunas masih dorman, segar, dan tidak rusak
  • Primordia akar belum tumbuh
  • Bebas dari penyakit pembuluh

 

  1. Pemeliharaan Tanaman

Penyulaman harus dilakukan bila dalam barisan tanaman tebu terdapat lebih dari 50 cm areal juring yang kosong (tidak ada tanaman yang tumbuh). Penyulaman dilakukan pada umur 4-5 minggu menjelang musim hujan menggunakan bibit tanaman yang sama varietas dan umurnya sama dengan tanaman yang akan disulam.

Pengaturan Jumlah Anakan

Jumlah anakan sebaiknya dibatasi hingga sepuluh (10) batang per rumpun agar tidak terlalu rapat, kompetisi antar tanaman dapat ditekan sehingga kualitas dan produktivitas tebu meningkat dengan rendemen gula yang lebih baik.

  • Pada prinsipnya pemupukan adalah menambah unsur hara ke dalam tanah untuk memenuhi kebutuhan tanaman yang tidak tercukupi oleh kandungan hara tanah. Sehingga dosis pupuk yang digunakan haruslah disesuaikan dengan status kesuburan lahan, untuk itu perlu dilakukan analisa tanah dan daun secara bertahap. Pemupukan mengacu pada pemupukan berimbang dengan penambahan pupuk/bahan organik (pupuk kandang, kompos, pupuk organik buatan atau blothing dengan dosis setidaknya 5 ton/ha).
  • Pembumbunan tanaman setidaknya dilakukan 3 kali, pembumbunan pertama dilakukan bersamaan dengan pemupukan kedua, tanah sekedar untuk menutupi pupuk, pembumbunan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 3-3,5 bulan dan pembumbunan ketiga dilakukan pada umur 4,5-5 bulan.
  • Klenthek adalah kegiatan membuang daun yang sudah tua/kering dari batang tebu dengan tujuan untuk merangsang pertumbuhan batang, memperkeras kulit batang, menekan pertumbuhan wiwilan/sunten/tunas pada batang tebu, mencegah roboh, dan mengurangi resiko kebakaran. Klenthek dilakukan setidaknya sebanyak 3 kali, klenthek kedua pada umur 7-8 bulan dan klenthek ketiga pada umur 1-2 bulan sebelum panen.
  • Sebagai tanaman asli (origin plant) dari daerah tropika basah, tebu digolongkan ke dalam tanaman yang memerlukan air dalam jumlah banyak namun peka terhadap kondisi lingkungan tumbuh yang berdrainase jelek. Tanaman ini relatif toleran terhadap cekaman air (water stress) sehingga pada daerah dengan curah hujan sekitar 1.000 mm/th tebu masih mampu bertahan.

Jumlah kebutuhan air sejalan dengan umur tanaman tebu sangat bervariasi tergantung pada fase pertumbuhan dan lingkungan tumbuhnya (agroekologi). Secara garis besar fase pertumbuhan tebu dibagi menjadi 4, yaitu : (1) perkecambahan (0-5 mg), (2) pertunasan (5 mg-3,5 bulan), (3) pertumbuhan cepat (3,5-9 bulan), dan (4) pemasakan batang (≥9 bulan). Pucuk kebutuhan air pada tanaman tebu terjadi pada fase pertumbuhan cepat, yaitu mencapai 0,75-0,85 cm air/hari.

 

 

  1. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)

Pengendalian OPT pada tanaman tebu di antaranya pengendalian gulma, hal ini dilakukan secara mekanis 2-3 kali dan atau menyesuaikan kebutuhan kondisi gulma di lapangan dengan interval 4 minggu, atau secara kimia dengan menggunakan herbisida dengan catatan jika gulma masih belum terkendala dengan manual. Sejak awal tanaman tumbuh sampai dengan umur 4 bulan diusahakan bebas gulma, jika sampai umur 4 bulan masih terdapat gulma dihindari pengendalian secara kimiawi.

Adapun hama yang menyerang tanaman tebu adalah : penggerek pucuk, uret, dan penggerek batang. Sedangkan penyakit yang menyerang tanaman tebu adalah : mosaik, busuk akar, blendok, dan pokkahbung.

 

  1. Panen

Pengaturan panen dimaksudkan agar tebu dapat dipungut secara efisien dan dapat diolah dalam keadaan optimum. Melalui pengaturan panen, penyediaan tebu di pabrik akan dapat berkesinambungan dan dalam jumlah yang sesuai dengan kapasitas pabrik sehingga pengolahan menjadi efisien. Waktu panen disesuaikan dengan hasil analisis pendahuluan (tingkat kematangan) tebu atau varietastebu pada umur panen optimal.

Penebangan tebu dilakukan dengan sistem tebu hijau, yaitu penebangan yang dilakukan tanpa ada perlakuan sebelumnya. Pemotongan batang sedapat mungkin rapat dengan muka tanah bahkan akan lebih baik jika dipotong 5-10 cm di bawah permukaan tanah. Batang tebu harus bersih dari daun dan pucuk, hindari panen dengan cara membakar batang tebu.

Pengangkutan ke tempat penggilingan/PG harus dilakukan sesegera mungkin sehingga batang tebu dapat sampai diproses pengolahan tidak lebih dari 36 jam agar rendemen tidak turun.

(disampaikan pada acara Temu Teknis Penyuluh Pertanian )