Image

STRATEGI PENYULUHAN PERTANIAN DENGAN METODE BELAJAR ANTAR POKTAN (BAPO) Study Pengembangan Burung Hantu (Tyto alba) di Dusun Wunut Desa Gempal Kecamatan Mojoanyar

Anik Asmawati (THL TB PP Kecamatan Bangsal)

Dibaca 279 kali

Berawal dari program GPPTT Padi TA. 2015, kegiatan study tentang pengembangan burung hantu(Tytoalba) dapat dilaksanakan.  Kegiatan ini merupakan kerjasama antara beberapa kelompok tani yakni Tani Tawang dan Tani Rowo dari Desa Ngrowo, sedangkan Tani Murni dan Tani Makmur dari Desa Pekuwon.  Latar belakang dari kegiatan ini adalah karena banyaknya serangan tikus terhadap tanaman di sawah milik petani anggota poktan tersebut. Atas saran dan dorongan PPL pendamping serta kemauan dari Poktan, dan dukungan dana dari program GPPTT padi TA 2015 maka diadakan styudy tentang pengembangan burung hantu dengan harapan dapat mengendalikan tikus tidak hanya sementara, namun dapat berkelanjutan. 

Study Pengembangan burung hantu ini dilaksanakan pada hari tanggal 22 Oktober 2015 di Desa Gempal, tepatnya Dusun Wunut dimana burung hantu banyak dikembangkan untuk pengendalian tikus. Kegiatan tersebut diikuti oleh 23 orang petani dari 4 poktan dengan perwakilan masing-masing 5 sampai dengan 8 orang, serta seluruh PPL PNS dan THL beserta POPT dari Kecamatan Bangsal. Acara tersebut disambut oleh Koordinator PPL kec. Mojoanyar dan PPL pendamping setempat, adapun materi tentang pengembangan burung hantu disampaikan oleh ketua kelompok tani Harapan Jaya yakni Bapak Sucipto.

Pembelajaran dilaksanakan dengan santai di Balai Dusun Wunut. Dalam Diskusi tersebut ketua Klompok tani Harapan Jaya yang akrab dipanggil Pak Cip menyampaikan bahwa pengendalian tikus dengan memanfaatkan musuh alami burung hantu (Tyto alba) dinilai efektif karena setiap malam, seekor burung hantu bisa memangsa 4-8 ekor tikus. Jadi, setiap bulan seekor burung hantu saja bisa mengurangi tikus sedikitnya 120 ekor. Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengembangkan burung hantu (Tytoalba) antara lain:

1) pengamatan, yakni untuk mengetahui tempat tinggal dan jalan yang biasanya dilewati olehburung hantu.

2) Pembuatan/pendirian pagupon, sebelum membuat pagupon, biasanya mendirikan tiang berbentuk huruf T  dengan ketinggian kurang lebih 5 M, setelah sering dihinggapi kemudian dilanjutkan dengan membuat pagupon. Pendirian pagupon harus dilaksanakan pada waktu dan tempat yang tepat. Tempat untuk pagupon harus berdekatan dengan tanggul karerna banyak sarang tikus. Waktu yang tepat adalah pada saat bero (kondisi sawah tidak ditanami), karena pada waktu tersebut burung hantu berburu tikus sebanyak-banykanya kemudian bertelur. Jika sudah ada pagupon, burung hantu akan bertelur di pagupon tersebut. Jumlah anak burung hantu tergantung banyaknya makanan, biasanya antara 7 sampai dengan 11 ekor.

3) Sosialisasi kepada masyarakat tentang keberadaan dan manfaat burung hantu. Ini sangat penting mengingat kebudayaan dan kepercayaan masyarakat yang masih negative terhadap burung hantu serta agar masyarakat di sekitar menggunakan pestisida secara bijak, missal tidak menggunakan rodentisida serta strum untuk pengendalian tikus. Dan yang terakhir

(4) adalah melakukan evaluasi. Evalusai dilakukan tiap akhir musim tanam, yakni dengan membersihkan lingkungan, menyingkirkan kayu atau tumpukan batu agar tikus tidak banyak. Setelah diskusi di dalam ruangan, pembelajaran dilanjutkan keluar yakni dengan melihat pagupon secara langsung.

Alhamdulillah, kegiatan tersebut mendapat respon positf dari poktan. 3 hari pasca kegiatan BAPO, 2 Poktan langsung mengadopsi teknologi yakni dengan membuat pagupon, diantaranya poktan Tani Murni membuat 3 pagupon dan Tani Tawang membuat 1 pagupon. Hingga saat ini pagupon tersebut telah dihuni oleh burung hantu dan telah berkembang biak di pagupon tersebut. Dari evaluasi dan monitoring yang dilakukan petani dan PPL pendamping, tikus banyak berkurang setelah pemasangan pagupon tersebut.

Link: